Keluhan Soal Harga Tinggi, Danau Dendam Tak Sudah Sepi Pengunjung

Danau Dendam Tak Sudah, Kota Bengkulu, Selasa (07/01/2025).Foto:Aisyah/Alankanews.com

Alankanews.com,Bengkulu--Tempat wisata Danau Dendam Tak Sudah, yang dulunya ramai dipenuhi wisatawan, kini mulai sepi pengunjung. Beberapa fasilitas yang sebelumnya populer perlahan kehilangan daya tariknya di mata masyarakat. Fenomena ini menjadi perbincangan hangat, terutama setelah keluhan pengunjung mengenai tarif ganda dan harga makanan yang tinggi viral di media sosial. Sebagai salah satu cagar alam yang telah berstatus sejak 1936, Danau Dendam Tak Sudah kini menghadapi tantangan baru, Selasa (07/01/2025).

Salah satu masalah yang dikeluhkan banyak pengunjung adalah adanya praktik tarif ganda yang memberatkan, serta harga makanan dan minuman yang dianggap terlalu mahal. Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Bengkulu, Amrullah, menjelaskan bahwa pengelolaan Danau Dendam Tak Sudah kini berada di bawah kewenangan Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu. Meskipun begitu, Dinas Pariwisata Kota Bengkulu tetap turut berperan dalam pengelolaan dan penataan kawasan tersebut.

"Pengelolaan Danau Dendam Tak Sudah memang berada di bawah Dinas Pariwisata Provinsi, namun kami tetap ikut berperan dalam proses penataan dan pengelolaan," ujar Amrullah.

Amrullah menambahkan bahwa hingga saat ini belum ada regulasi khusus yang mengatur standar harga barang dagangan di kawasan wisata tersebut. 

"Memang banyak keluhan terkait harga yang tinggi, seperti kelapa muda dan sebagainya. Kami harus memaklumi karena pedagang mencari penghasilan di sana. Namun, sejauh ini kami belum memiliki regulasi untuk menetapkan standar harga di lokasi wisata tersebut," tambahnya.

Terkait lonjakan harga pada hari libur besar, Amrullah menyatakan bahwa hal itu sering terjadi di banyak tempat wisata karena tingginya permintaan dan terbatasnya stok barang. 

"Ini bukan hanya terjadi di Danau Dendam, tetapi juga di tempat wisata lainnya. Pedagang sering menaikkan harga pada hari libur karena tingginya permintaan," tutupnya.

Di sisi lain, Kurnia (51), seorang pedagang yang telah berjualan di kawasan Danau Dendam selama 15 tahun, mengungkapkan dampak besar yang dirasakannya setelah video viral yang menyoroti harga tinggi di tempat tersebut. 

"Sejak video itu viral, pengunjung jadi sepi. Saya sangat menyayangkan kejadian ini," ujar Kurnia.

Kurnia menegaskan bahwa harga barang di warungnya tetap wajar dan tidak ada kenaikan yang signifikan. 

"Saya jual kelapa muda seharga Rp 15 ribu, air mineral Rp 5 ribu, dan Pop Mie Rp 10 ribu. Harga ini sudah saya pertahankan selama 15 tahun berjualan di sini. Tidak ada kenaikan yang terlalu tinggi," tambahnya.

Kurnia menduga ada oknum yang sengaja menaikkan harga atau menyebarkan informasi negatif untuk mencemarkan nama baik Danau Dendam Tak Sudah. 

"Mungkin ada oknum yang ingin merugikan kami. Akibatnya, semua pedagang terkena dampaknya dan orang jadi takut untuk belanja di sini," ucapnya.

Ia berharap masyarakat lebih bijak dalam menerima informasi dan tidak mudah percaya pada berita yang belum jelas kebenarannya. 

"Banyak komentar negatif yang beredar, padahal dulu Danau Dendam sangat ramai. Saya harap masyarakat lebih teliti sebelum percaya begitu saja," ujarnya.

Eni (26), seorang pengunjung yang baru pertama kali mengunjungi Danau Dendam, membenarkan bahwa harga di warung Kurnia masih wajar. 

"Saya beli di sana, harganya normal-normal saja. Kebetulan saya mau pulang ke Kepahiang, jadi mampir ke sini," ujar Eni.

Meski demikian, perbaikan tata kelola dan pengaturan regulasi harga di kawasan wisata ini menjadi tantangan yang perlu segera diselesaikan agar Danau Dendam Tak Sudah bisa kembali menjadi destinasi wisata unggulan di Bengkulu.

Penulis : Aisyah Aprielia Lupti

Editor : Andrini Ratna Dilla