Lapak di Rest Area Tol Bengkulu-Taba Penanjung Sepi Peminat, Pelaku Usaha Keluhkan Harga Sewa

Lapak di Rest Area Tol Bengkulu-Taba Penanjung Sepi Peminat,di Bengkulu, Kamis (06/02/2025).Foto:Aisyah/Alankanews.com

Alankanews.com,Kota Bengkulu--Fasilitas tempat penyewaan lapak di kawasan Rest Area Tol Bengkulu-Taba Penanjung tampaknya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan UMKM. Hingga saat ini, lapak-lapak yang disediakan untuk disewa masih minim peminat, Kamis (06/02/2025).

Salah satu warga, Arian, mengaku awalnya tidak mengetahui adanya lapak untuk berjualan di rest area tersebut. Setelah mendapatkan informasi, ia pun menyampaikan kabar tersebut kepada para pengusaha kecil dan pelaku UMKM di desanya.  

"Saya pernah berkunjung ke rest area itu, awalnya saya kira belum ada lapak untuk berjualan. Ternyata setelah mengobrol dengan pihak di sana, lapaknya sudah tersedia, hanya saja informasinya kurang tersampaikan kepada masyarakat," ujar Arian.  

Menurutnya, alasan utama para pelaku usaha kecil belum tertarik berjualan di rest area adalah kurangnya informasi mengenai ketersediaan lapak serta harga sewanya yang dianggap terlalu tinggi.  

"Setelah saya berbicara dengan beberapa pelaku usaha kecil di desa, mereka mengatakan ada dua alasan utama mereka belum mau berjualan di sana. Pertama, mereka ragu dengan jumlah pembeli yang singgah. Kedua, harga sewa lapak yang mencapai Rp1 jutaan per bulan masih terlalu mahal bagi mereka," tambahnya.  

Sejalan dengan itu, seorang pemilik usaha seblak, Eka, juga mengungkapkan keraguannya untuk berjualan di rest area. Ia khawatir jumlah konsumen yang singgah tidak cukup untuk menutupi biaya operasional dan sewa lapak.  

"Bukannya tidak mau berjualan di sana, tetapi siapa yang akan beli? Konsumennya kurang dan hanya mengandalkan pengendara yang singgah. Kalau jualan di desa, konsumen sudah jelas ada, seperti anak sekolah dan masyarakat sekitar," kata Eka.  

Ia menambahkan bahwa dalam sehari, jika sedang ramai, pendapatannya bisa mencapai Rp500 ribu di desa. Namun, jika berjualan di rest area, belum tentu bisa mendapatkan penghasilan yang sama.  

"Kalau di sana, mungkin hanya satu atau dua mobil yang singgah. Belum tentu penghasilan bisa menutup biaya sewa," lanjutnya.  

Minimnya peminat penyewaan lapak ini menjadi tantangan bagi pengelola rest area dalam menarik pelaku usaha untuk mengisi kios yang telah disediakan. Diperlukan solusi, seperti penyesuaian harga sewa atau promosi yang lebih gencar, agar fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pelaku usaha dan memberikan manfaat bagi ekonomi lokal.

Penulis : Aisyah Aprielia Lupti

Editor : Andrini Ratna Dilla