Alankanews.com,Kota Bengkulu--Pasar Barukoto, pasar tertua di Kota Bengkulu, kini berada dalam kondisi memprihatinkan semakin sepi dan terabaikan. Pedagang di pasar ini kini hanya tersisa sekitar 20 persen, sementara sisanya, berupa kios-kios yang tutup permanen atau rusak, tak ada penyewa, Kamis (26/12/2024).
Eri, seorang pedagang yang telah lama berjualan di pasar ini, mengungkapkan rasa sedihnya melihat kondisi pasar Barukoto. Menurutnya, sementara pasar-pasar lain di Kota Bengkulu terus mendapatkan sentuhan perbaikan, pasar Barukoto nyaris tak terjamah.
“Kalau lihat di medsos itu pasar Barukoto dikenal orang karena pedagang makanan. Ada es pokat lejen, bakso, pangsit, sate. Tapi pedagang baju, sayur, dan alat elektronik di sini hidup segan mati tak mau,” ujarnya
Kendati demikian, Eri tetap bertahan di pasar tersebut. Dia menyatakan bahwa jika harus pindah, akan ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Sebagian besar pedagang di pasar Barukoto kini lebih banyak bertahan, meskipun usaha mereka hanya mampu menghabiskan sisa hak guna kios yang dimiliki.
“Pasar Barukoto, yang terletak di pusat kota dan dikelilingi cagar budaya seperti Benteng, Thomas Parr, Gudang Garam, dan Kantor Pos Tua, seharusnya menjadi ikon penting bagi Kota Bengkulu,” tambahnya.
Saiful, seorang pengamat ekonomi Bengkulu, menilai pasar ini memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama karena lokasinya yang strategis di pusat wisata kota. Namun, menurutnya, untuk memaksimalkan potensi tersebut, dibutuhkan niat dan konsistensi dari pemerintah kota.
"Memang niat pemimpin yang kurang menurut saya. Ada wacana ini dan itu, dua minggu senyap lagi. Harus konsisten kalau mau majukan pasar Barukoto, apalagi kini gempuran jual beli online sangat keras,” ujar Saiful.
Saat ini, satu-satunya harapan yang tersisa untuk pasar Barukoto adalah sentra kuliner yang masih bertahan. Dikenal sebagai pusat jajanan legendaris, sektor kuliner di pasar ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung dan diharapkan bisa memberikan napas baru bagi keberlangsungan pasar Barukoto.
Penulis : Aisyah Aprielia Lupti
Editor : Andrini Ratna Dilla