Pedagang Pasar Minggu Menghadapi Tantangan Relokasi, Tata Ruang Jadi Isu Utama

Rencana Relokasi Pasar Minggu, di Kota Bengkulu, Senin (13/01/2025).Foto:Aisyah/Alankanews.com

Alankanews.com,Kota Bengkulu--Sejumlah pedagang di Pasar Minggu, Kota Bengkulu, khususnya yang berjualan di sepanjang Jalan KZ Abidin hingga depan Mega Mall, masih bertahan berjualan di bahu jalan meskipun telah menerima peringatan dari pihak berwenang. Kondisi ini menarik perhatian pemerintah daerah yang berusaha menertibkan aktivitas tersebut demi menjaga kenyamanan pengguna jalan, Senin (13/01/2025).

Pasar Minggu, yang telah berdiri selama puluhan tahun, dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi rakyat di Kota Bengkulu. Namun, tingginya jumlah pedagang yang memanfaatkan bahu jalan untuk berjualan dianggap menghambat kelancaran aktivitas lalu lintas di wilayah tersebut.

Hendra (27), salah seorang pedagang buah yang telah berdagang di Pasar Minggu selama tujuh tahun, mengungkapkan bahwa sebelumnya mereka hanya diminta untuk menyusun dagangan dengan rapi agar kendaraan tetap bisa melintas. Namun, setelah pergantian kepala pasar, mereka diminta untuk masuk ke dalam pasar.

“Iya, sebelum ganti kepala pasar, kami hanya diminta menyusun dagangan dengan rapi agar kendaraan tetap bisa melintas. Tapi sekarang, kami disuruh masuk ke dalam pasar. Jujur, kami keberatan karena di dalam pasar itu sepi pembeli,” ujar Hendra.

Menurut Hendra, kondisi di dalam pasar tidak mendukung pedagang untuk tetap mendapatkan pelanggan. Ia juga menambahkan bahwa banyak pedagang yang sebelumnya berjualan di dalam pasar kini memilih berjualan di luar karena sepinya pembeli.

“Yang di dalam pasar saja banyak yang jualan keluar karena di dalam itu sepi. Kalau kami dipaksa masuk, takutnya pembeli malah makin sedikit,” tambah Hendra.

Pendapat serupa disampaikan oleh Farhat Effendi (50), pedagang yang telah berjualan di lokasi tersebut selama 24 tahun. Farhat mengaku menerima peringatan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bengkulu karena dianggap mengganggu aktivitas lalu lintas.

“Kami sudah diberi batas waktu sampai 13 Januari untuk tidak lagi berjualan di bahu jalan ini,” ujar Farhat. 

Ia berharap ada solusi berupa relokasi atau pembenahan tata ruang pasar agar para pedagang tidak kehilangan pelanggan jika dipindahkan ke dalam pasar.

“Kami tidak berniat mengganggu jalan. Kami hanya ingin tempat yang layak untuk mencari nafkah,” tambah Farhat.

Permasalahan ini menjadi tantangan bagi Disperindag Kota Bengkulu untuk menyeimbangkan antara penataan kota dan kebutuhan para pedagang yang telah lama menggantungkan hidupnya di Pasar Minggu. Hingga saat ini, upaya relokasi para pedagang masih menjadi wacana yang memerlukan komitmen bersama dari berbagai pihak terkait.

Penulis : Aisyah Aprielia Lupti

Editor : Andrini Ratna Dilla