Alankanews.com,Kota Bengkulu--Ratusan warga yang tergabung dalam Aliansi Peduli Korban PLTU Teluk Sepang menggelar unjuk rasa di depan kantor Gubernur Bengkulu. Aksi ini dipicu oleh tuduhan bahwa PLTU Teluk Sepang, terutama jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), telah menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat sekitar, Senin (23/12/2024), Kemarin.
Aliansi yang terdiri dari warga Desa Padang Kuas, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Seluma, serta Kelurahan Teluk Sepang, Kota Bengkulu, bersama dengan lebih dari enam organisasi mahasiswa di Bengkulu, menuntut penutupan PLTU Teluk Sepang. Mereka meyakini bahwa pembangkit listrik tersebut menjadi penyebab utama dampak buruk terhadap kesehatan warga.
“Kami menuntut agar PLTU Teluk Sepang segera ditutup, karena kami yakin itulah akar permasalahan yang menyebabkan dampak negatif bagi banyak warga.” ujar Koordinator aksi, Edi Purwono
Selain itu, massa juga mendesak agar jaringan transmisi SUTT yang ada di sekitar pemukiman warga di Desa Padang Kuas dipindahkan. Mereka juga menuntut ganti rugi dari PT Tenaga Listrik Bengkulu (TLB), yang mengelola jaringan transmisi tersebut, atas kerusakan ratusan alat elektronik milik warga.
“Kerusakan alat elektronik yang kami alami sangat merugikan. Kami meminta PT TLB bertanggung jawab,” tegas Edi.
Menanggapi tuntutan tersebut, Kepala Bidang Energi dan Ketenagalistrikan Dinas ESDM Provinsi Bengkulu, Rozani, berjanji akan mengatur pertemuan antara warga dan pihak PT TLB untuk mencari solusi. Pertemuan tersebut dijadwalkan paling lambat tanggal 27 Desember 2024.
Menurut data yang dihimpun oleh Kanopi Hijau Indonesia (KHI), per 19 November 2024, sekitar 38 keluarga di Dusun Jalur, Desa Padang Kuas, mengalami kerugian hingga Rp 155.685.000 akibat rusaknya 165 unit peralatan elektronik. Selain itu, kerusakan pada fasilitas umum, seperti Kantor Desa Padang Kuas dan Masjid Al-Muhajirin, mengakibatkan kerugian sebesar Rp 9.248.000.
Lebih dari itu, warga Desa Padang Kuas juga melaporkan berbagai masalah kesehatan yang mereka alami. Sejak dua tahun terakhir, sebanyak 18 warga di desa tersebut mengeluhkan sakit kepala, nyeri sendi, mimisan, tubuh lemas, serta gangguan penglihatan dan pendengaran. Selain itu, empat warga dilaporkan pernah tersengat listrik tegangan tinggi.
Aksi ini mendapat perhatian luas dengan harapan agar segera ditemukan solusi yang dapat meringankan beban warga yang terdampak oleh operasi PLTU Teluk Sepang.
Penulis : Aisyah Aprielia Lupti
Editor : Andrini Ratna Dilla