Tambak Udang Vaname di Kabupaten Kaur, Antara Berkah dan Petaka

Tambak Udang, di Kaur, Kamis (09/01/2025).Foto:Dandi/Alankanews.com

Alankanews.com,Kaur--Kabupaten Kaur dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil udang vaname terbesar di Provinsi Bengkulu. Hingga tahun 2024, tercatat 34 tambak udang tersebar dari Kecamatan Tetap hingga Kecamatan Nasal. Namun, keberadaan tambak-tambak ini menuai kontroversi. Di satu sisi, tambak udang menjadi sumber pendapatan daerah melalui Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Di sisi lain, dampak lingkungan yang ditimbulkan justru menjadi bencana bagi ekosistem laut dan kehidupan nelayan tradisional, Kamis (09/01/2025).

Kecamatan Kaur Selatan menjadi wilayah dengan jumlah tambak terbanyak, yakni 21 tambak. Sementara itu, tambak terbesar terdapat di Kecamatan Maje, yakni milik PT. Dua Putera Perkasa Pratama yang memiliki 81 kolam dengan total luas mencapai 306.700 meter persegi di kawasan Linau dan Muara Jaya.

"Banyak tambak yang diduga melanggar aturan tata ruang dan pengelolaan lingkungan. Kami berharap ada tindakan tegas, bukan hanya karena pendapatan daerah, tapi juga demi keberlanjutan lingkungan," ujar Agus, salah satu nelayan.

Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua tambak udang di Kabupaten Kaur menghasilkan limbah yang mencemari terumbu karang, merusak ekosistem laut, dan mengancam keberlangsungan hidup nelayan tradisional.

"Air laut di sekitar tambak berubah warna. Ikan-ikan semakin sulit didapat, dan alat tangkap kami sering rusak karena sampah dari tambak. Kami jadi kehilangan mata pencaharian, selain itu juga terjadi kerusakan terumbu karang, dan ini bukan hanya berdampak pada nelayan, tapi juga pada keberlanjutan ekosistem laut di Kaur. Jika dibiarkan, dampaknya akan semakin meluas" tambahnya.

Masyarakat berharap ada solusi yang seimbang antara pengembangan ekonomi melalui tambak udang dan pelestarian lingkungan laut. Pemerintah Kabupaten Kaur diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini sebelum kerusakan semakin parah.

Penulis : Dandi Febriawan

Editor : Andrini Ratna Dilla