Terjadi Longsor dan Jembatan Hanyut Akibat Hujan Deras di BS

Terjadi tanah longsor dan jembatan hanyut diterjang banjir di Bengkulu Selatan, Kamis (16/11)/ (Foto:Beta)

Alankanews.com, Bengkulu-- Terjadi tanah longsor dan jembatan hanyut diterjang banjir di Bengkulu Selatan (BS) akibat hujan deras yang mengguyur sejak Selasa (14/11) hingga kini. 

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bengkulu Selatan (BS) menyebutkan, longsor terjadi di jalan penghubung Manna - Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), tepatnya di Desa Batu Betajuk Kecamatan Ulu Manna yang memutus akses selama 5 jam. 

Hal tersebut melanda jembatan permanen sentra produksi di Desa Lawang Agung Kecamatan Kedurang hingga hanyut dibawa arus sungai. 

“Dari peristiwa bencana alam tersebut tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Memang ada dua insiden yang diakibatkan bencana alam tersebut, hanyutnya jembatan dan tanah longsor,” ungkap Plt Kalaksa BPBD BS, Hen Yepi SPi, Kamis (16/11).

Yepi juga menyampaikan  nilai kerugian dari bencana alam tersebut  mencapai ratusan juta rupiah. Hal tersebut terlihat dari adanya kerusakan jembatan permanen yang menjadi akses satu-satunya petani di Desa Lawang Agung untuk menjangkau hamparan sawah dengan menyeberangi Sungai Kedurang.

“Kejadian longsor kali ini pertama sejak bencana kemarau beberapa bulan lalu. Tumpukan material cukup tinggi dan panjang. Lalu lintas sempat lumpuh sementara sebelum evakuasi material diselesaikan petugas,” sambung Yepi. 

Faktor utama longsor di Desa Batu Betajuk disebabkan terjadinya pergerakan tanah di tebing tepi jalan lintas. Sebab, selama ini bagian tanah retak lantaran kondisi kering, setelah diguyur hujan dengan intensitas yang tinggi. Secara spontan tanah langsung bergerak dan terjadilah longsor yang menutupi jalan.

“Sudah kami antisipasi sejak awal, terlebih di kawasan perbatasan Bengkulu Selatan dan Sumsel ini banyak tebing tinggi. Bahkan, yang lebih khawatir lagi jalan bisa saja putus karena tergerus tanah di bawahnya,” ujar Yepi.

Untuk membersihkan material longsur yang ada warga setempat tidak membutuhkan alat berat karena material longsor tidak terlalu tebal. Ketebalan material hanya mencapai 1 meter dengan panjang 8 meter

“Petugas Kami membersihkan material dengan menggunakan peralatan pacul dan sekop. Jalan sudah bisa dilalui dan aman,” jelas Yepi.

Selain itu Yepi juga mengungkapkan untuk perbaikan jembatan permanen di Desa Lawang Agung sejauh ini masih diupayakan jembatan darurat. Sebab, untuk membangun jembatan permanen perlu anggaran yang besar, sementara Dana Tanggap Bencana (DTB) di BPBD BS sudah kosong.

“Nanti kita akan usulkan untuk rehab jembatan tahun depan, kalau tahun ini anggarannya sudah habis. Tapi nanti diupayakan pembangunan jembatan darurat, agar akses petani ke lahan mereka kembali lancar,” tambahnya.

Mengingat curah hujan sudah mulai tinggi, Yepi mengimbau agar masyarakat dapat berhati-hati dalam berlalu lintas di area rawan longsor. Pihaknya juga telah memasang papan peringatan di setiap titik jalan yang rawan longsor. 

“Total ada 15 titik peringatan bagi pengendara. Selain itu, kami mengimbau pengendara agar menghindari perjalanan malam hari dalam kondisi hujan lebat dan petir. Termasuk jangan beraktivitas di sungai saat hujan sedang lebat,” tutup Yepi.

Reporter : Beta Kurnia

Editor : Aisyah Oktavia