Alankanews.com,Mukomuko--Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu telah menonaktifkan tiga kerangkeng perangkap harimau yang dipasang di Kabupaten Mukomuko, setelah 21 hari berjalan tanpa ada harimau yang terperangkap. Penonaktifan ini dilakukan setelah kejadian tragis yang melibatkan serangan harimau pada seorang warga dan seekor sapi, Kamis (30/01/2025).
Kepala Resor BKSDA Kabupaten Mukomuko, Damin, menjelaskan bahwa meskipun perangkap telah dihentikan, pemantauan dan penelusuran akan terus dilakukan.
"Setelah perangkap dinonaktifkan, tim kami akan melanjutkan dengan pemantauan dan analisis lebih lanjut," ujar Damin.
Tindakan pemasangan perangkap ini dilakukan setelah kejadian pada 7 Januari 2025, di mana seorang warga Desa Tunggal Jaya, Ibnu Oktavianto (22), ditemukan meninggal dunia di kebun kelapa sawit milik Ari Cahyono. Tak lama setelah itu, seekor sapi milik Deden Nurjamil, warga Desa Mekar Jaya, ditemukan mati akibat dimangsa harimau. Sebagai respons, BKSDA Bengkulu memasang tiga perangkap berbentuk kotak (Box Trap) di wilayah tersebut.
Meskipun perangkap telah dinonaktifkan, Damin menegaskan bahwa analisa mengenai pergerakan harimau tetap akan dilakukan bersama tim dari Kementerian Kehutanan. BKSDA juga melibatkan Polsek Teras Terunjam, Koramil, Babinsa, masyarakat, dan pemerintahan desa dalam proses penonaktifan perangkap ini.
BKSDA mengimbau kepada masyarakat Kabupaten Mukomuko untuk tetap berhati-hati, mengingat harimau yang diduga memangsa manusia dan sapi masih berkeliaran di sekitar daerah tersebut.
"Kami mengingatkan warga untuk tetap waspada saat beraktivitas di luar rumah," kata Damin.
Sementara itu, Ketua Cabang Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Provinsi Bengkulu, Yeni Misra, mengungkapkan bahwa penyebab harimau keluar dari hutan dan menyerang manusia serta sapi mungkin terkait dengan kekurangan mangsa alami seperti babi hutan, yang terkena wabah penyakit African Swine Fever (ASF). Selain itu, perubahan fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit juga diduga turut mempengaruhi perilaku harimau.
"Harimau kesulitan mencari mangsa alami karena banyak babi hutan yang terjangkit ASF, ditambah lagi konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit," ujarnya.
Penulis : Elvina Rosa
Editor : Andrini Ratna Dilla