Alankanews.com,Provinsi Bengkulu--Polisi Kehutanan (Polhut) Provinsi Bengkulu menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelestarian kawasan hutan yang luas, dengan jumlah personil yang sangat terbatas, Kamis (26/12/2024).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Bengkulu, Safnizar, mengungkapkan bahwa Polhut memiliki peranan yang sangat vital dalam menjaga kawasan hutan dari ancaman kerusakan, seperti praktik perambahan liar, meskipun keterbatasan personil menjadi hambatan utama.
Di Dinas LHK Provinsi Bengkulu, jumlah Polhut hanya mencapai 14 orang. Bahkan jika digabungkan dengan personil yang ada di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Taman Nasional (TN), total personil Polhut tidak lebih dari 100 orang. Sementara itu, luas kawasan hutan di Provinsi Bengkulu mencapai 923.000 hektar, yang tentu saja tidak sebanding dengan jumlah personil yang ada.
“Dengan jumlah personil yang terbatas, tentu kami harus memikirkan cara agar upaya perlindungan kawasan hutan tetap optimal. Salah satu cara yang kami lakukan adalah dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan dalam menjaga kelestarian alam,” ujar Safnizar.
Meskipun terbatas, pihaknya terus berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait, seperti BKSDA dan TN. Kolaborasi ini mencakup pengawasan bersama, edukasi tentang pentingnya perlindungan hutan, serta pemberdayaan masyarakat sekitar untuk berperan aktif dalam mencegah kerusakan hutan.
Melalui pendekatan yang berbasis pada kolaborasi antara Polhut, BKSDA, TN, dan masyarakat, diharapkan perlindungan terhadap kawasan hutan Bengkulu dapat lebih efektif.
Menurut Safnizar, salah satu contoh nyata keberhasilan kolaborasi ini adalah partisipasi masyarakat dalam melakukan pemantauan secara langsung terhadap aktivitas ilegal di sekitar hutan.
Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan kini lebih sadar akan pentingnya menjaga kawasan hutan untuk keberlanjutan lingkungan dan perekonomian mereka. Meski tantangan masih ada, upaya terus dilakukan untuk memastikan bahwa hutan Bengkulu tetap terlindungi dan terjaga kelestariannya bagi generasi mendatang.
Penulis : Aisyah Aprielia Lupti
Editor : Andrini Ratna Dilla