Alankanews.com,Bengkulu Selatan-- Menjelang akhir Oktober 2024 di Kabupaten Bengkulu Selatan dari data ratusan ekor sapi dan kerbau terjangkit penyakit ngorok atau Septicaemia Epizootica (SE), Kamis (24/10/2024).
Bahkan meskipun sudah dilakukan vaksinasi kepada ribuan hewan ternak sapi dan kerbau milik masyarakat agar mencegah sapi dan kerbau terjangkit SE. Langkah lainnya agar memutuskan penyebaran virus SE masih sangat dibutuhkan, karena saat ini dari data Distan BS bulan September dan Oktober 2024 tercatat 27 ekor sapi dan 182 kerbau yang mati sehingga total 209 ekor ternak yang mati akibat penyakit tersebut. Hal ini terus menghantui para peternak di Kabupaten Bengkulu Selatan.
"Kasus penyakit ngorok pada ternak sapi dan kerbau tersebut sangat berbahaya dan sama halnya dengan penyakit-penyakit sebelumnya seperti PMK dan Jembrana. Jadi harus dapat segera ditangani agar para petani tidak merugi," ujar Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Barli Halim SE.
Lebih lanjut, Barli mengatakan salah satu solusinya yang dapat diambil adalah dengan mengisolasi atau menutup sementara akses keluar masuk sapi dari luar dan dalam BS. Sebab langkah tersebut dinilai dapat efektif dalam mencegah penyebaran hewan ternak terjangkit SE.
“Sebelum tambah parah, lakukan dua hal, yaitu kandangkan dan perketat pintu masuk untuk mobilisasi hewan ternak di Bengkulu. Ini saran kami jadi mohon pemerintah daerah bisa menerimanya,” lanjutnya.
Sementara itu Kepala Distan BS, Sakimin SPt menerangkan untuk mencegah penularan penyakit ngorok atau SE telah dilaksanakan vaksinasi. Sehingga diharapkan hewan ternak masyarakat lebih kebal terhadap virus SE dan bisa menekan angka kematian mendadak ternak.
"Vaksinasi juga akan memutus mata rantai penyebaran virus SE di berbagai lokasi peternakan. Serangan SE sangat luar biasa, sepekan sudah ratusan ternak mati mendadak. Ini tidak bisa dibiarkan, dan kami langsung mengambil langkah cepat dengan melakukan vaksinasi,” ungkapnya.
Sakimin menyampaikan agar hewan ternak tidak terjangkit SE dapat dilakukan pencegahan bukan hanya dengan vaksinasi.
Adapun langkah yang dilakukan untuk mencegah ternak terjangkit SE dengan tidak melepas liarkan ternak, pisahkan ternak yang terindikasi SE, vaksinasi secara rutin, desinfeksi ternak dan sekitar, ternak tidak kedinginan, serta jangan ragu untuk menghubungi petugas dan dokter hewan jika diperlukan.
"Penyakit ngorok atau SE disebabkan oleh bakteri pasteurella multocida. Bakteri tersebut menyerang saluran pernafasan pada ternak," sampainya.
Sedangkan untuk mengetahui hewan ternak terjangkit SE, Sakimi menjelaskan ciri-cirinya, yaitu hewan ternak mengalami demam tinggi, tidak mau makan, keluar cairan berlebih dari hidung dan mulut, feses berdarah, diare, serta pembekakan di bawah dada, kaki dan pangkal ekor.
"Daging hewan ternak terindikasi SE masih aman dikonsumsi jika dimasak dengan benar. Namun tidak dibenarkan jika memakan bagian jeroan hewan ternak yang terjangkit SE," tutupnya
Sumber : Harian Bengkulu Ekspress
Editor : Andrini ratna Dilla